PERGAULAN BEBAS DAN SEX BEBAS
Pergaulan bebas merupakan sub budaya yang
menyimpang namun sering dikonotasikan hal-hal yang bersipat negative seperti
sex bebas, narkoba, kehidupan malam, dan lain-lain. Memang istilah ini di
adopsi dari dunia barat. Sedangkan sek bebas merupakan akibat dari pergaulan
bebas itu sendiri.
PENYEBAB MASALAH
Dasar-dasar penyebab pergaulan bebas, Pergaulan
bebas tidak lebas dari masalah Godaan hidup bagi orang diantaranya adalah
harta, wanita, dan tahta. Harta menjadi godaan hidup dalam arti kurang atau
berlebih menyangkut kesejahteraan ekonomi. Orang dalam kemiskinan rentan
terjerumus dalam kekafiran. Orang yang dilanda miskin-papa akan mudah digoda
oleh lingkungan sosialnya untuk menggadaikan kehormatannya. Kemiskinan bisa membuat
orang tidak menggunakan nalar sehatnya sehingga ia tergoda untuk mencuri,
menjual harga diri dengan melacur seksual (PSK), dan melacur politik sebagai
broker dan pecundang politik dengan korupsi dan menjual keadilan
Kesejahteraan berlebih berarti kekayaan
yang melimpah. Kekayaan juga akan mampu menggoda seseorang untuk berperilaku
aneh seperti berfoya-foya, berlebih-lebihan (isyraf dan tabdzir), berperilaku
aniaya terhadap yang miskin, ingin meraih kekuasaan lewat uang dan kekayaan
yang dimiliki, maka terjadilah “money politics”, dan berperilaku seksual
menyimpang atau minus moral dengan mempermainkan lain jenis sebagai pemuas
nafsu.
Wanita sebagai penggoda maksudnya
adalah libido suksual yang menggelora yang disimbolkan dengan kata wanita.
Cinta buta menempatkan nafsu seksual menjadi dominan dan mempengaruhi alur
pikir dan kebijakan yang diambil. Nafsu seksual jika telah menjadi orientasi
hidup, maka individu tersebut membuat semua keputusan dalam hidupnya merupakan
transaksi untuk kepentingan kepuasan diri. Harta dan kekuasaan yang semestinya
menjadi media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan komunitas sosialnya
sebaliknya digunakan untuk mendapatkan kepuasan seks kepada siapapun yang
diminatinya.
Tahta menggoda seseorang untuk
berperilaku lalim terhadap rakyatnya. Idealnya, harta atau kemampuan ekonomi,
wanita, atau nafsu-syahwat (yang mampu membuat manusia survive di bumi), dan
tahta atau kekuasaan politik dijadikan sebagai media untuk pengabdian kepada
Tuhan dan sesama. Untuk itu, setiap individu yang mampu eling lan waspada,
ingat dan waspada terhadap godaan dan mampu mengaturnya akan menjadi potensi
untuk kebaikan hidupnya.
Namun perlu di ketahui pergaulan bebas
juga bisa di sebabkan faktor teknis seperti lingkungan keluarga kurang harmonis
yang menyebabkan kuranya perhatian orang-orang terdekatnya yang sangat penting
bagi perkembangan mentalnya, sehigga orang atau anak yang memiliki masalah
rumah tangga sangat rentan terjerumus dalam pergaulan bebas. Bahkan dalam sebuah
penelitian anak atau orang yang memiliki masalah rumah tangga (broken home)
memiliki 80% risiko terjerumus dalam pergaulan bebas.
1.
Pandangan
Dalam kacamata politik
Dalam konteks politik yang terjadi
akhir-akhir ini, menurut Boni Hargens4 sebagai binalitas politik karena politik
tidak hanya rakus uang (harta) dan kekuasaan (tahta) atau banality of politics,
tetapi juga haus seks (binality of politics). Ciri banal dan binal dalam
politik kita sangat memalukan dan telah menisbikan prinsip moralitas dalam
politik yang menunjukkan defisit moral pribadi para pejabat publik dan defisit
moral politik secara general. Permainan uang, janji-janji jabatan, dan
pelayanan seks dalam berpolitik menunjukkan indikator dekadensi moral yang amat
memprihatinkan. Bahkan baru baru ini diberitakan seorang anggota DPR (dewan perwakilan rakyat) arifindo
tertankap kamera sedang menonton film porno saat rapat sedang berlangsung,
mungkin itu bukan hal yang baru didunia politik. Rakyat mungkin bukan hanya
kecewa tetapi malu melihat kelakuan wakil-wakil rakyat seperti itu, yang secara
langsung mencoreng nama bangsa kita lewat pemberitaan media yang blak-blakan,
di depan masyrakat dunia.
2. Sex Menurut
pandangan Masyrakat Jawa.
Membincang
seksualitas perempuan Jawa dimulai dari hubungan-hubungan sosial pada masa
remaja dalam sistem sosial Jawa yang erat sangkut-pautnya dengan proses
tercapainya tingkat kedewasaan biologis. Masalah seks tidak pernah dibicarakan
secara terbuka dalam keluarga dan masyarakat Jawa umumnya, meskipun dalam percakapan
banyak lelucon mengenai seks. Bahkan, seorang kiai juga sering bercerita
tentang seks kepada santri dan umatnya. Pembicaraan dan pengetahuan tentang
seks mengalir di antara teman akrab, kawan seprofesi, atau kawan bermain, dan
ada juga yang mendapatkan dari wanita-wanita tunasusila di warung-warung
pinggir jalan.
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan Jawa berakar di Kraton
dan berkembang di Yogyakarta dan Solo. Dalam konteks liberalitas seksual, ada
hasil penelitian yang menyoroti tentang virginitas yang terasa sangat
mengguncang kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan kota budaya. Dalam
penelitian tersebut ditemukan bahwa 97.05% mahasiswa di Yogyakarta telah
kehilangan keperawanannya. Nyaris 100% atau secara matematis bisa disepadankan
dengan 10 gadis dari 11 gadis sudah tidak perawan yang diakibatkan oleh
hubungan seksual. Bukan karena kecelakaan yang memicu robeknya selaput dara
vagina. Sebuah kebebasan yang dampaknya membuat semua orang berpendapat
merinding tentang akibatnya.
Terkait dengan pelanggaran
terhadap norma hubungan seksual yang dilakukan oleh anggota DPR dan penyanyi,
dan kontraversi poligami yang dilakukan oleh dai atau kiai atau siapa pun juga
terlepas dari status sosial politik dan ekonomi. Ekspos secara besar-besaran
dan membabi-buta apalagi menghakimi akan berdampak negatif dan jauh dari
prinsip edukatif. Setiap keputusan yang diambil oleh individu ada pertimbangan
dan latarbelakang historisnya. Klaim dan penghakiman emosional akan meruntuhkan
kemanusiaan yang akhir-akhir ini semakin berat untuk ditegakkan.
ALTERNATIF
PEMECAHAN MASALAH
Hal ini merupakan cerminan
bertapa rusaknya moral bangsa kita Alternatif
pemecahan masalah seperti di atas yang paling dekat adalah melakukan verifikasi
terhadap pandangan-pandangan atau budaya yang salah dan semu agar bisa di
terima oleh masyrakat serta lebih kritis lagi dalam memfilterisasi
budaya-budaya yang masuk. Karna ada ilmuan yang mengatakan ‘’kehancuran sebuah
bangsa diawali dengan memudarnya moral bangsa bangsa itu sendiri’’ hal yang tentu
tidak kita inginkan.
ALTERNATIF
PRIORITAS
Alternative prioritas merupakan alternative
jangka panjang, dalam pemecahan masalah adalah
melakukan control sosial melalui berbagai lembaga seperti keluarga,
pendidikan, agama dan lembaga kemasyrakatan serta komunikasi dan media.
Merupakan hal yang paling penting untuk tetap di jaga untuk menekan laju
perkembangan pergaulan bebas di Negara
kita. Karna ini merupakan dinamika dalam membangun bangsa.
Lembaga keluarga
sangat penting untuk menigkatkan dan menjaga perkembangan mental agar tidak
terjerumus kedalam pergaulan bebas, pendekatan dalam hubungan keluarga sangat
dibutuhkan dalam mencegah pergaulan bebas.
Lembaga
pendidikan yang pada umumnya berfungsi untuk mendidik peserta didik namun
diharapkan juga mampu menigkatkan pengetahuan mereka tentang sesuatu yang
pantas atau tidak pantas dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya bagi
dirinya dan orang lain.
Lembaga agama
sebagai penggerak massa, yang dapat merangkum individu dalam berprilaku baik,
serta sebagai sandaran vertical dalam dalam kehidupan.
Media, bicara
masalah media hal inilah yang paling sulit di control karna berhubungan karna
dengan sistem politik Negara kita (DEMOKRASI) yang mengedepankan asas
keterbukaan. Jadi jangan heran kalau terjadi masalah yang HOT media Indonesia
dengan cepat akan segera mengeksposnya serta pemberitaanya terkesan membabi
buta, Bahkan lembaga sensor filmpun tak mampu mencegah tayangan-tayangan yang
ekstreme bagi anak dibawah usia seperti adegan forno, adegan vulgar, kekerasan
serta tayangan yang berbentuk negative yang tentu sangat tidak baik bagi
pertumbuhan mental seseorang. Itu
mungkin saja bisa merangsang anak-anak untuk berbuat demikian karna menurut
penelitian bahwa seorang anak bisa menghabiskan 25% sampai 30% harinya di depan
TV. Anda pernah mendengar pernyataan “media AS sangat kejam’’ iya, mungkin hal
yang sama terjadi pada media di Negara kita (Indonesia).
Pergaulan bebas merupakan sub budaya yang
menyimpang namun sering dikonotasikan hal-hal yang bersipat negative seperti
sex bebas, narkoba, kehidupan malam, dan lain-lain. Memang istilah ini di
adopsi dari dunia barat. Sedangkan sek bebas merupakan akibat dari pergaulan
bebas itu sendiri.
PENYEBAB MASALAH
Dasar-dasar penyebab pergaulan bebas, Pergaulan
bebas tidak lebas dari masalah Godaan hidup bagi orang diantaranya adalah
harta, wanita, dan tahta. Harta menjadi godaan hidup dalam arti kurang atau
berlebih menyangkut kesejahteraan ekonomi. Orang dalam kemiskinan rentan
terjerumus dalam kekafiran. Orang yang dilanda miskin-papa akan mudah digoda
oleh lingkungan sosialnya untuk menggadaikan kehormatannya. Kemiskinan bisa membuat
orang tidak menggunakan nalar sehatnya sehingga ia tergoda untuk mencuri,
menjual harga diri dengan melacur seksual (PSK), dan melacur politik sebagai
broker dan pecundang politik dengan korupsi dan menjual keadilan
Kesejahteraan berlebih berarti kekayaan
yang melimpah. Kekayaan juga akan mampu menggoda seseorang untuk berperilaku
aneh seperti berfoya-foya, berlebih-lebihan (isyraf dan tabdzir), berperilaku
aniaya terhadap yang miskin, ingin meraih kekuasaan lewat uang dan kekayaan
yang dimiliki, maka terjadilah “money politics”, dan berperilaku seksual
menyimpang atau minus moral dengan mempermainkan lain jenis sebagai pemuas
nafsu.
Wanita sebagai penggoda maksudnya
adalah libido suksual yang menggelora yang disimbolkan dengan kata wanita.
Cinta buta menempatkan nafsu seksual menjadi dominan dan mempengaruhi alur
pikir dan kebijakan yang diambil. Nafsu seksual jika telah menjadi orientasi
hidup, maka individu tersebut membuat semua keputusan dalam hidupnya merupakan
transaksi untuk kepentingan kepuasan diri. Harta dan kekuasaan yang semestinya
menjadi media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan komunitas sosialnya
sebaliknya digunakan untuk mendapatkan kepuasan seks kepada siapapun yang
diminatinya.
Tahta menggoda seseorang untuk
berperilaku lalim terhadap rakyatnya. Idealnya, harta atau kemampuan ekonomi,
wanita, atau nafsu-syahwat (yang mampu membuat manusia survive di bumi), dan
tahta atau kekuasaan politik dijadikan sebagai media untuk pengabdian kepada
Tuhan dan sesama. Untuk itu, setiap individu yang mampu eling lan waspada,
ingat dan waspada terhadap godaan dan mampu mengaturnya akan menjadi potensi
untuk kebaikan hidupnya.
Namun perlu di ketahui pergaulan bebas
juga bisa di sebabkan faktor teknis seperti lingkungan keluarga kurang harmonis
yang menyebabkan kuranya perhatian orang-orang terdekatnya yang sangat penting
bagi perkembangan mentalnya, sehigga orang atau anak yang memiliki masalah
rumah tangga sangat rentan terjerumus dalam pergaulan bebas. Bahkan dalam sebuah
penelitian anak atau orang yang memiliki masalah rumah tangga (broken home)
memiliki 80% risiko terjerumus dalam pergaulan bebas.
1.
Pandangan
Dalam kacamata politik
Dalam konteks politik yang terjadi
akhir-akhir ini, menurut Boni Hargens4 sebagai binalitas politik karena politik
tidak hanya rakus uang (harta) dan kekuasaan (tahta) atau banality of politics,
tetapi juga haus seks (binality of politics). Ciri banal dan binal dalam
politik kita sangat memalukan dan telah menisbikan prinsip moralitas dalam
politik yang menunjukkan defisit moral pribadi para pejabat publik dan defisit
moral politik secara general. Permainan uang, janji-janji jabatan, dan
pelayanan seks dalam berpolitik menunjukkan indikator dekadensi moral yang amat
memprihatinkan. Bahkan baru baru ini diberitakan seorang anggota DPR (dewan perwakilan rakyat) arifindo
tertankap kamera sedang menonton film porno saat rapat sedang berlangsung,
mungkin itu bukan hal yang baru didunia politik. Rakyat mungkin bukan hanya
kecewa tetapi malu melihat kelakuan wakil-wakil rakyat seperti itu, yang secara
langsung mencoreng nama bangsa kita lewat pemberitaan media yang blak-blakan,
di depan masyrakat dunia.
2. Sex Menurut
pandangan Masyrakat Jawa.
Membincang
seksualitas perempuan Jawa dimulai dari hubungan-hubungan sosial pada masa
remaja dalam sistem sosial Jawa yang erat sangkut-pautnya dengan proses
tercapainya tingkat kedewasaan biologis. Masalah seks tidak pernah dibicarakan
secara terbuka dalam keluarga dan masyarakat Jawa umumnya, meskipun dalam percakapan
banyak lelucon mengenai seks. Bahkan, seorang kiai juga sering bercerita
tentang seks kepada santri dan umatnya. Pembicaraan dan pengetahuan tentang
seks mengalir di antara teman akrab, kawan seprofesi, atau kawan bermain, dan
ada juga yang mendapatkan dari wanita-wanita tunasusila di warung-warung
pinggir jalan.
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan Jawa berakar di Kraton
dan berkembang di Yogyakarta dan Solo. Dalam konteks liberalitas seksual, ada
hasil penelitian yang menyoroti tentang virginitas yang terasa sangat
mengguncang kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan kota budaya. Dalam
penelitian tersebut ditemukan bahwa 97.05% mahasiswa di Yogyakarta telah
kehilangan keperawanannya. Nyaris 100% atau secara matematis bisa disepadankan
dengan 10 gadis dari 11 gadis sudah tidak perawan yang diakibatkan oleh
hubungan seksual. Bukan karena kecelakaan yang memicu robeknya selaput dara
vagina. Sebuah kebebasan yang dampaknya membuat semua orang berpendapat
merinding tentang akibatnya.
Terkait dengan pelanggaran
terhadap norma hubungan seksual yang dilakukan oleh anggota DPR dan penyanyi,
dan kontraversi poligami yang dilakukan oleh dai atau kiai atau siapa pun juga
terlepas dari status sosial politik dan ekonomi. Ekspos secara besar-besaran
dan membabi-buta apalagi menghakimi akan berdampak negatif dan jauh dari
prinsip edukatif. Setiap keputusan yang diambil oleh individu ada pertimbangan
dan latarbelakang historisnya. Klaim dan penghakiman emosional akan meruntuhkan
kemanusiaan yang akhir-akhir ini semakin berat untuk ditegakkan.
ALTERNATIF
PEMECAHAN MASALAH
Hal ini merupakan cerminan
bertapa rusaknya moral bangsa kita Alternatif
pemecahan masalah seperti di atas yang paling dekat adalah melakukan verifikasi
terhadap pandangan-pandangan atau budaya yang salah dan semu agar bisa di
terima oleh masyrakat serta lebih kritis lagi dalam memfilterisasi
budaya-budaya yang masuk. Karna ada ilmuan yang mengatakan ‘’kehancuran sebuah
bangsa diawali dengan memudarnya moral bangsa bangsa itu sendiri’’ hal yang tentu
tidak kita inginkan.
ALTERNATIF
PRIORITAS
Alternative prioritas merupakan alternative
jangka panjang, dalam pemecahan masalah adalah
melakukan control sosial melalui berbagai lembaga seperti keluarga,
pendidikan, agama dan lembaga kemasyrakatan serta komunikasi dan media.
Merupakan hal yang paling penting untuk tetap di jaga untuk menekan laju
perkembangan pergaulan bebas di Negara
kita. Karna ini merupakan dinamika dalam membangun bangsa.
Lembaga keluarga
sangat penting untuk menigkatkan dan menjaga perkembangan mental agar tidak
terjerumus kedalam pergaulan bebas, pendekatan dalam hubungan keluarga sangat
dibutuhkan dalam mencegah pergaulan bebas.
Lembaga
pendidikan yang pada umumnya berfungsi untuk mendidik peserta didik namun
diharapkan juga mampu menigkatkan pengetahuan mereka tentang sesuatu yang
pantas atau tidak pantas dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya bagi
dirinya dan orang lain.
Lembaga agama
sebagai penggerak massa, yang dapat merangkum individu dalam berprilaku baik,
serta sebagai sandaran vertical dalam dalam kehidupan.
Media, bicara
masalah media hal inilah yang paling sulit di control karna berhubungan karna
dengan sistem politik Negara kita (DEMOKRASI) yang mengedepankan asas
keterbukaan. Jadi jangan heran kalau terjadi masalah yang HOT media Indonesia
dengan cepat akan segera mengeksposnya serta pemberitaanya terkesan membabi
buta, Bahkan lembaga sensor filmpun tak mampu mencegah tayangan-tayangan yang
ekstreme bagi anak dibawah usia seperti adegan forno, adegan vulgar, kekerasan
serta tayangan yang berbentuk negative yang tentu sangat tidak baik bagi
pertumbuhan mental seseorang. Itu
mungkin saja bisa merangsang anak-anak untuk berbuat demikian karna menurut
penelitian bahwa seorang anak bisa menghabiskan 25% sampai 30% harinya di depan
TV. Anda pernah mendengar pernyataan “media AS sangat kejam’’ iya, mungkin hal
yang sama terjadi pada media di Negara kita (Indonesia).