Sabtu, 09 November 2013

PERGAULAN BEBAS DAN SEX BEBAS

 PERGAULAN BEBAS DAN SEX BEBAS
 Pergaulan bebas merupakan sub budaya yang menyimpang namun sering dikonotasikan hal-hal yang bersipat negative seperti sex bebas, narkoba, kehidupan malam, dan lain-lain. Memang istilah ini di adopsi dari dunia barat. Sedangkan sek bebas merupakan akibat dari pergaulan bebas itu sendiri.
PENYEBAB MASALAH
Dasar-dasar penyebab pergaulan bebas, Pergaulan bebas tidak lebas dari masalah Godaan hidup bagi orang diantaranya adalah harta, wanita, dan tahta. Harta menjadi godaan hidup dalam arti kurang atau berlebih menyangkut kesejahteraan ekonomi. Orang dalam kemiskinan rentan terjerumus dalam kekafiran. Orang yang dilanda miskin-papa akan mudah digoda oleh lingkungan sosialnya untuk menggadaikan kehormatannya. Kemiskinan bisa membuat orang tidak menggunakan nalar sehatnya sehingga ia tergoda untuk mencuri, menjual harga diri dengan melacur seksual (PSK), dan melacur politik sebagai broker dan pecundang politik dengan korupsi dan menjual keadilan
Kesejahteraan berlebih berarti kekayaan yang melimpah. Kekayaan juga akan mampu menggoda seseorang untuk berperilaku aneh seperti berfoya-foya, berlebih-lebihan (isyraf dan tabdzir), berperilaku aniaya terhadap yang miskin, ingin meraih kekuasaan lewat uang dan kekayaan yang dimiliki, maka terjadilah “money politics”, dan berperilaku seksual menyimpang atau minus moral dengan mempermainkan lain jenis sebagai pemuas nafsu.
Wanita sebagai penggoda maksudnya adalah libido suksual yang menggelora yang disimbolkan dengan kata wanita. Cinta buta menempatkan nafsu seksual menjadi dominan dan mempengaruhi alur pikir dan kebijakan yang diambil. Nafsu seksual jika telah menjadi orientasi hidup, maka individu tersebut membuat semua keputusan dalam hidupnya merupakan transaksi untuk kepentingan kepuasan diri. Harta dan kekuasaan yang semestinya menjadi media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan komunitas sosialnya sebaliknya digunakan untuk mendapatkan kepuasan seks kepada siapapun yang diminatinya.
Tahta menggoda seseorang untuk berperilaku lalim terhadap rakyatnya. Idealnya, harta atau kemampuan ekonomi, wanita, atau nafsu-syahwat (yang mampu membuat manusia survive di bumi), dan tahta atau kekuasaan politik dijadikan sebagai media untuk pengabdian kepada Tuhan dan sesama. Untuk itu, setiap individu yang mampu eling lan waspada, ingat dan waspada terhadap godaan dan mampu mengaturnya akan menjadi potensi untuk kebaikan hidupnya.
Namun perlu di ketahui pergaulan bebas juga bisa di sebabkan faktor teknis seperti lingkungan keluarga kurang harmonis yang menyebabkan kuranya perhatian orang-orang terdekatnya yang sangat penting bagi perkembangan mentalnya, sehigga orang atau anak yang memiliki masalah rumah tangga sangat rentan terjerumus dalam pergaulan bebas. Bahkan dalam sebuah penelitian anak atau orang yang memiliki masalah rumah tangga (broken home) memiliki 80% risiko terjerumus dalam pergaulan bebas.
1.      Pandangan Dalam kacamata politik
Dalam konteks politik yang terjadi akhir-akhir ini, menurut Boni Hargens4 sebagai binalitas politik karena politik tidak hanya rakus uang (harta) dan kekuasaan (tahta) atau banality of politics, tetapi juga haus seks (binality of politics). Ciri banal dan binal dalam politik kita sangat memalukan dan telah menisbikan prinsip moralitas dalam politik yang menunjukkan defisit moral pribadi para pejabat publik dan defisit moral politik secara general. Permainan uang, janji-janji jabatan, dan pelayanan seks dalam berpolitik menunjukkan indikator dekadensi moral yang amat memprihatinkan. Bahkan baru baru ini diberitakan seorang anggota  DPR (dewan perwakilan rakyat) arifindo tertankap kamera sedang menonton film porno saat rapat sedang berlangsung, mungkin itu bukan hal yang baru didunia politik. Rakyat mungkin bukan hanya kecewa tetapi malu melihat kelakuan wakil-wakil rakyat seperti itu, yang secara langsung mencoreng nama bangsa kita lewat pemberitaan media yang blak-blakan, di depan masyrakat dunia.
2.       Sex Menurut pandangan Masyrakat Jawa.
Membincang seksualitas perempuan Jawa dimulai dari hubungan-hubungan sosial pada masa remaja dalam sistem sosial Jawa yang erat sangkut-pautnya dengan proses tercapainya tingkat kedewasaan biologis. Masalah seks tidak pernah dibicarakan secara terbuka dalam keluarga dan masyarakat Jawa umumnya, meskipun dalam percakapan banyak lelucon mengenai seks. Bahkan, seorang kiai juga sering bercerita tentang seks kepada santri dan umatnya. Pembicaraan dan pengetahuan tentang seks mengalir di antara teman akrab, kawan seprofesi, atau kawan bermain, dan ada juga yang mendapatkan dari wanita-wanita tunasusila di warung-warung pinggir jalan.
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan Jawa berakar di Kraton dan berkembang di Yogyakarta dan Solo. Dalam konteks liberalitas seksual, ada hasil penelitian yang menyoroti tentang virginitas yang terasa sangat mengguncang kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan kota budaya. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa 97.05% mahasiswa di Yogyakarta telah kehilangan keperawanannya. Nyaris 100% atau secara matematis bisa disepadankan dengan 10 gadis dari 11 gadis sudah tidak perawan yang diakibatkan oleh hubungan seksual. Bukan karena kecelakaan yang memicu robeknya selaput dara vagina. Sebuah kebebasan yang dampaknya membuat semua orang berpendapat merinding tentang akibatnya.
Terkait dengan pelanggaran terhadap norma hubungan seksual yang dilakukan oleh anggota DPR dan penyanyi, dan kontraversi poligami yang dilakukan oleh dai atau kiai atau siapa pun juga terlepas dari status sosial politik dan ekonomi. Ekspos secara besar-besaran dan membabi-buta apalagi menghakimi akan berdampak negatif dan jauh dari prinsip edukatif. Setiap keputusan yang diambil oleh individu ada pertimbangan dan latarbelakang historisnya. Klaim dan penghakiman emosional akan meruntuhkan kemanusiaan yang akhir-akhir ini semakin berat untuk ditegakkan.
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
            Hal ini merupakan cerminan bertapa rusaknya moral bangsa kita Alternatif pemecahan masalah seperti di atas yang paling dekat adalah melakukan verifikasi terhadap pandangan-pandangan atau budaya yang salah dan semu agar bisa di terima oleh masyrakat serta lebih kritis lagi dalam memfilterisasi budaya-budaya yang masuk. Karna ada ilmuan yang mengatakan ‘’kehancuran sebuah bangsa diawali dengan memudarnya moral bangsa bangsa itu sendiri’’ hal yang tentu tidak kita inginkan.
ALTERNATIF PRIORITAS
 Alternative prioritas merupakan alternative jangka panjang, dalam pemecahan masalah adalah  melakukan control sosial melalui berbagai lembaga seperti keluarga, pendidikan, agama dan lembaga kemasyrakatan serta komunikasi dan media. Merupakan hal yang paling penting untuk tetap di jaga untuk menekan laju perkembangan  pergaulan bebas di Negara kita. Karna ini merupakan dinamika dalam membangun bangsa.
Lembaga keluarga sangat penting untuk menigkatkan dan menjaga perkembangan mental agar tidak terjerumus kedalam pergaulan bebas, pendekatan dalam hubungan keluarga sangat dibutuhkan dalam mencegah pergaulan bebas.
Lembaga pendidikan yang pada umumnya berfungsi untuk mendidik peserta didik namun diharapkan juga mampu menigkatkan pengetahuan mereka tentang sesuatu yang pantas atau tidak pantas dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya bagi dirinya dan orang lain.
Lembaga agama sebagai penggerak massa, yang dapat merangkum individu dalam berprilaku baik, serta sebagai sandaran vertical dalam dalam kehidupan.
Media, bicara masalah media hal inilah yang paling sulit di control karna berhubungan karna dengan sistem politik Negara kita (DEMOKRASI) yang mengedepankan asas keterbukaan. Jadi jangan heran kalau terjadi masalah yang HOT media Indonesia dengan cepat akan segera mengeksposnya serta pemberitaanya terkesan membabi buta, Bahkan lembaga sensor filmpun tak mampu mencegah tayangan-tayangan yang ekstreme bagi anak dibawah usia seperti adegan forno, adegan vulgar, kekerasan serta tayangan yang berbentuk negative yang tentu sangat tidak baik bagi pertumbuhan mental  seseorang. Itu mungkin saja bisa merangsang anak-anak untuk berbuat demikian karna menurut penelitian bahwa seorang anak bisa menghabiskan 25% sampai 30% harinya di depan TV. Anda pernah mendengar pernyataan “media AS sangat kejam’’ iya, mungkin hal yang sama terjadi pada media di Negara kita (Indonesia). 
 Pergaulan bebas merupakan sub budaya yang menyimpang namun sering dikonotasikan hal-hal yang bersipat negative seperti sex bebas, narkoba, kehidupan malam, dan lain-lain. Memang istilah ini di adopsi dari dunia barat. Sedangkan sek bebas merupakan akibat dari pergaulan bebas itu sendiri.
PENYEBAB MASALAH
Dasar-dasar penyebab pergaulan bebas, Pergaulan bebas tidak lebas dari masalah Godaan hidup bagi orang diantaranya adalah harta, wanita, dan tahta. Harta menjadi godaan hidup dalam arti kurang atau berlebih menyangkut kesejahteraan ekonomi. Orang dalam kemiskinan rentan terjerumus dalam kekafiran. Orang yang dilanda miskin-papa akan mudah digoda oleh lingkungan sosialnya untuk menggadaikan kehormatannya. Kemiskinan bisa membuat orang tidak menggunakan nalar sehatnya sehingga ia tergoda untuk mencuri, menjual harga diri dengan melacur seksual (PSK), dan melacur politik sebagai broker dan pecundang politik dengan korupsi dan menjual keadilan
Kesejahteraan berlebih berarti kekayaan yang melimpah. Kekayaan juga akan mampu menggoda seseorang untuk berperilaku aneh seperti berfoya-foya, berlebih-lebihan (isyraf dan tabdzir), berperilaku aniaya terhadap yang miskin, ingin meraih kekuasaan lewat uang dan kekayaan yang dimiliki, maka terjadilah “money politics”, dan berperilaku seksual menyimpang atau minus moral dengan mempermainkan lain jenis sebagai pemuas nafsu.
Wanita sebagai penggoda maksudnya adalah libido suksual yang menggelora yang disimbolkan dengan kata wanita. Cinta buta menempatkan nafsu seksual menjadi dominan dan mempengaruhi alur pikir dan kebijakan yang diambil. Nafsu seksual jika telah menjadi orientasi hidup, maka individu tersebut membuat semua keputusan dalam hidupnya merupakan transaksi untuk kepentingan kepuasan diri. Harta dan kekuasaan yang semestinya menjadi media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan komunitas sosialnya sebaliknya digunakan untuk mendapatkan kepuasan seks kepada siapapun yang diminatinya.
Tahta menggoda seseorang untuk berperilaku lalim terhadap rakyatnya. Idealnya, harta atau kemampuan ekonomi, wanita, atau nafsu-syahwat (yang mampu membuat manusia survive di bumi), dan tahta atau kekuasaan politik dijadikan sebagai media untuk pengabdian kepada Tuhan dan sesama. Untuk itu, setiap individu yang mampu eling lan waspada, ingat dan waspada terhadap godaan dan mampu mengaturnya akan menjadi potensi untuk kebaikan hidupnya.
Namun perlu di ketahui pergaulan bebas juga bisa di sebabkan faktor teknis seperti lingkungan keluarga kurang harmonis yang menyebabkan kuranya perhatian orang-orang terdekatnya yang sangat penting bagi perkembangan mentalnya, sehigga orang atau anak yang memiliki masalah rumah tangga sangat rentan terjerumus dalam pergaulan bebas. Bahkan dalam sebuah penelitian anak atau orang yang memiliki masalah rumah tangga (broken home) memiliki 80% risiko terjerumus dalam pergaulan bebas.
1.      Pandangan Dalam kacamata politik
Dalam konteks politik yang terjadi akhir-akhir ini, menurut Boni Hargens4 sebagai binalitas politik karena politik tidak hanya rakus uang (harta) dan kekuasaan (tahta) atau banality of politics, tetapi juga haus seks (binality of politics). Ciri banal dan binal dalam politik kita sangat memalukan dan telah menisbikan prinsip moralitas dalam politik yang menunjukkan defisit moral pribadi para pejabat publik dan defisit moral politik secara general. Permainan uang, janji-janji jabatan, dan pelayanan seks dalam berpolitik menunjukkan indikator dekadensi moral yang amat memprihatinkan. Bahkan baru baru ini diberitakan seorang anggota  DPR (dewan perwakilan rakyat) arifindo tertankap kamera sedang menonton film porno saat rapat sedang berlangsung, mungkin itu bukan hal yang baru didunia politik. Rakyat mungkin bukan hanya kecewa tetapi malu melihat kelakuan wakil-wakil rakyat seperti itu, yang secara langsung mencoreng nama bangsa kita lewat pemberitaan media yang blak-blakan, di depan masyrakat dunia.
2.       Sex Menurut pandangan Masyrakat Jawa.
Membincang seksualitas perempuan Jawa dimulai dari hubungan-hubungan sosial pada masa remaja dalam sistem sosial Jawa yang erat sangkut-pautnya dengan proses tercapainya tingkat kedewasaan biologis. Masalah seks tidak pernah dibicarakan secara terbuka dalam keluarga dan masyarakat Jawa umumnya, meskipun dalam percakapan banyak lelucon mengenai seks. Bahkan, seorang kiai juga sering bercerita tentang seks kepada santri dan umatnya. Pembicaraan dan pengetahuan tentang seks mengalir di antara teman akrab, kawan seprofesi, atau kawan bermain, dan ada juga yang mendapatkan dari wanita-wanita tunasusila di warung-warung pinggir jalan.
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan Jawa berakar di Kraton dan berkembang di Yogyakarta dan Solo. Dalam konteks liberalitas seksual, ada hasil penelitian yang menyoroti tentang virginitas yang terasa sangat mengguncang kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan kota budaya. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa 97.05% mahasiswa di Yogyakarta telah kehilangan keperawanannya. Nyaris 100% atau secara matematis bisa disepadankan dengan 10 gadis dari 11 gadis sudah tidak perawan yang diakibatkan oleh hubungan seksual. Bukan karena kecelakaan yang memicu robeknya selaput dara vagina. Sebuah kebebasan yang dampaknya membuat semua orang berpendapat merinding tentang akibatnya.
Terkait dengan pelanggaran terhadap norma hubungan seksual yang dilakukan oleh anggota DPR dan penyanyi, dan kontraversi poligami yang dilakukan oleh dai atau kiai atau siapa pun juga terlepas dari status sosial politik dan ekonomi. Ekspos secara besar-besaran dan membabi-buta apalagi menghakimi akan berdampak negatif dan jauh dari prinsip edukatif. Setiap keputusan yang diambil oleh individu ada pertimbangan dan latarbelakang historisnya. Klaim dan penghakiman emosional akan meruntuhkan kemanusiaan yang akhir-akhir ini semakin berat untuk ditegakkan.
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
            Hal ini merupakan cerminan bertapa rusaknya moral bangsa kita Alternatif pemecahan masalah seperti di atas yang paling dekat adalah melakukan verifikasi terhadap pandangan-pandangan atau budaya yang salah dan semu agar bisa di terima oleh masyrakat serta lebih kritis lagi dalam memfilterisasi budaya-budaya yang masuk. Karna ada ilmuan yang mengatakan ‘’kehancuran sebuah bangsa diawali dengan memudarnya moral bangsa bangsa itu sendiri’’ hal yang tentu tidak kita inginkan.
ALTERNATIF PRIORITAS
 Alternative prioritas merupakan alternative jangka panjang, dalam pemecahan masalah adalah  melakukan control sosial melalui berbagai lembaga seperti keluarga, pendidikan, agama dan lembaga kemasyrakatan serta komunikasi dan media. Merupakan hal yang paling penting untuk tetap di jaga untuk menekan laju perkembangan  pergaulan bebas di Negara kita. Karna ini merupakan dinamika dalam membangun bangsa.
Lembaga keluarga sangat penting untuk menigkatkan dan menjaga perkembangan mental agar tidak terjerumus kedalam pergaulan bebas, pendekatan dalam hubungan keluarga sangat dibutuhkan dalam mencegah pergaulan bebas.
Lembaga pendidikan yang pada umumnya berfungsi untuk mendidik peserta didik namun diharapkan juga mampu menigkatkan pengetahuan mereka tentang sesuatu yang pantas atau tidak pantas dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya bagi dirinya dan orang lain.
Lembaga agama sebagai penggerak massa, yang dapat merangkum individu dalam berprilaku baik, serta sebagai sandaran vertical dalam dalam kehidupan.

Media, bicara masalah media hal inilah yang paling sulit di control karna berhubungan karna dengan sistem politik Negara kita (DEMOKRASI) yang mengedepankan asas keterbukaan. Jadi jangan heran kalau terjadi masalah yang HOT media Indonesia dengan cepat akan segera mengeksposnya serta pemberitaanya terkesan membabi buta, Bahkan lembaga sensor filmpun tak mampu mencegah tayangan-tayangan yang ekstreme bagi anak dibawah usia seperti adegan forno, adegan vulgar, kekerasan serta tayangan yang berbentuk negative yang tentu sangat tidak baik bagi pertumbuhan mental  seseorang. Itu mungkin saja bisa merangsang anak-anak untuk berbuat demikian karna menurut penelitian bahwa seorang anak bisa menghabiskan 25% sampai 30% harinya di depan TV. Anda pernah mendengar pernyataan “media AS sangat kejam’’ iya, mungkin hal yang sama terjadi pada media di Negara kita (Indonesia).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar